Subhan Aksa, Pereli Indonesia Go Internasional

Diposting pada

Sekilas, posturnya tak tampak seperti atlet kebanyakan. Perawakannya agak gemuk, kalau boleh disebut demikian. Kemeja lengan panjang, celana hitam kain, dan sepatu formal yang dikenakan lebih menunjukkan tampilan eksekutif muda daripada seorang pembalap.

Sesi tanya jawab belum dibuka, tapi pria berusia 26 tahun itu sudah menjawab pertanyaan yang dilancarkan wartawan dengan sabar. “Sebelum dilanjutkan, mungkin Ubang bisa minum dulu,” celoteh salah satu wartawan, memotong Ubang, yang tampak keasyikan bercerita.

Atlet bernama asli Subhan Aksa itu sedang ramai dibicarakan. Ia berhasil berdiri di podium sebagai runner-up dalam kompetisi Production Car World Rally Championship (PWRC) di Selandia Baru, Juni lalu. Pada tahun yang sama, prestasi serupa juga diukir di kompetisi yang berlangsung di Yunani. Kemenangan yang Ubang torehkan itu menjadi keberhasilan tunggal bagi pereli asal Indonesia, bahkan Asia.

Dalam acara Rabu (4/7) siang itu, Ubang bercerita banyak tentang prestasi terakhirnya itu. Ubang juga berbagi cerita tentang apa yang ia lakukan dua tahun terakhir. Apakah ia memilih fokus di perusahaan keluarga yang juga bergerak di bidang otomotif atau menjajal bidang lain?

Kemana saja dua tahun terakhir ini?
Setelah mendapat juara satu di Kejuaraan Nasional 2009 dan 2010, sebenarnya saya enggak kemana – mana. Tahun lalu, bukan enggak berprestasi. Dua tahun itu, saya rutin ikut kejuaraan di Asia Pasifik (Asia Pasific Rally Championship). Skala kejuaraan memang berbeda. Lebih kecil, jadi, ini semacam pemanasan sebelum saya berlaga di tingkat dunia. Enggak karena lagi fokus di bisnis kok.

Memangnya keluarga bisnis apa?
Keluarga ada bisnis di bidang industri, jasa dan semen. Selain itu, ada bisnis yang berhubungan dengan otomotif. Jadi, saya bantu disana juga.

Keluarga mendukung kamu di bidang ini?
Keluarganya mungkin bukan lagi mengizinkan, melainkan sudah pasrah. Mereka mengizinkan kok. Mungkin karena ada bisnis yang berhubungan dengan otomotif, secara enggak langsung (ikut lomba) jadi menguntungkan  perusahaan juga. Saya juga pakai mobil yang punya kerja sama dengan perusahaan.

Sejak kapan kenal dengan reli?
Dari kecil saya sudah main di bengkel. Kelas 6 SD, saya sudah bisa nyetir mobil. Karena masih enggak sampai, saya pakai bantalan di kursi. Waktu itu nyetirnya di bengkel orang tua di Makassar. Nyetirnya maju mundur, keluar masuk mobil. Terus sering lihat tayangan lomba reli di TV. Dari sana sudah terdoktrin bahwa saya ingin berkarya di dunia reli. Waktu kecil, guru saya heran karena saya bilang mau jadi pembalap. Mungkin mereka pikir itu bukan pekerjaan yang menjanjikan.

Apa yang menarik dari olahraga ini?
Reli beda dengan F1. F1 seperti bangsawan, golongan kelas satu. Kalau reli, kita lebih membaur. Reli enggak senggol – senggolan seperti F1. Kenalan dengan juara dunia delapan kali juga santai saja. Kita jadi saling bantu. Di luar balapan, kita juga sering komunikasi. Jadi, budayanya memang beda. Lebih terasa kekeluargaannya.

Pernah punya pengalaman seru?
Pertandingan terakhir di Selandia baru kemarin. Ada mobil yang terbakar di lintasan terakhir. Kita semua langsung berhenti. Enggak mikir kalau lagi balapan atau gimana waktunya nanti. Mobil sudah hangus. Untung pembalapnya enggak apa – apa karena pakai baju sampai sarung tangan anti api. Kita terkoneksi secara tidak langsung. Kalau ada apa – apa, kita juga mau dibantu mereka. Ya begitulah reli, seperti keluarga.

Kalau melihat kejadian itu, jadi takut enggak sih?
Justru penting untuk merasa takut. Kalau enggak, malah gampang melakukan kesalahan. Saya, tim dan keluarga mengerti banget kalau ini olahraga high risk. Namun, itu challenge-nya. Karena itu, harus lebih berhati – hati. Persiapan jadi lebih bagus. Jadi, pas tanding rasa takutnya malah jadi berkurang.

Ada ritual sebelum bertanding?
Ada sih. Ada beberapa doa dari orang tua yang selalu saya bacain juga sebelum start.

Sudah puas dengan prestasi sekarang?
Puas banget. Over ekspektasi. Enggak nyangka bisa mengantongi dua podium dalam satu tahun. Ini achievement yang besar untuk kami. Targetnya 2014 sudah bisa masuk World Rally Champhionship. Karena itu, saya terus menambah jam terbang dan mencoba medan berbeda. Kalau kami bisa membuka jalan di tingkat dunia. Mudah – mudahan lebih banyak anak muda yang menekuni bidang ini.

Lebih senang jadi pengusaha atau pembalap?
Dua – duanya suka. Keduanya  punya tantangan tersendiri. Bermanfaat juga satu sama lain. Dari balap, saya belajar mengambil keputusan dalam waktu cepat. Hal itu juga diterapkan saat jadi pengusaha dan kehidupan juga. Kadang kan kita juga disuruh untuk mengambil keputusan dengan cepat.

Di luar arena, balap juga enggak?
Kalau di jalan enggak balap kok. Jalan normal aja, takut di tilang. he he he.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *