Sepatu Lokal Kalah Bersaing Dengan Produk China

Diposting pada

Seorang perajin sepatu lokal, Amanah Mulyono mengatakan, maraknya berbagai produk sepatu impor dari China dengan harga murah sangat mengganggu pemasaran sepatu – sepatu buatan lokal.

“Pemasaran sepatu lokal jadi lebih sulit dengan beredarnya sepatu impor dari China. Sepatu impor dari China memiliki model yang beragam dan harganya jauh lebih murah dari produk lokal, ujar pemilik industri sepatu dengan merek Jordan Amor, di Jl MT Haryono, Kampung Malang nomor 295, Semarang baru – baru ini.

Dia menambahkan, sepatu impor dengan harga yang murah cenderung lebih menjadi pilihan masyarakat. Padahal, secara kualitas masih jauh lebih baik produk lokal. “Produk sepatu lokal jauh lebih awet, karena dikerjakannya juga secara manual menggunakan tangan. Pengerjaannya juga jauh lebih rapi” katanya.

Namun, dia mengakui, produk lokal hingga kini masih belum mendapatkan kepercayaan penuh dari masyarakat. “Tapi, kalau masyarakat sudah pernah memakai produk lokal. Baru nanti mereka akan tahu seperti apa kualitas sepatu – sepatu lokal,” jelasnya.

Amanah menuturkan, produksi sepatu saat ini masih sangat bergantung pada pesanan dari pelanggan. Pasalnya, untuk merek yang diusungnya belum menyentuh segmen konsumen yang belanja di pertokoan. “Masih sangat bergantung pada pesanan, dalam sehari kami bisa memproduksi  sebanyak 20 pasang. Harga jualnya juga relatif terjangkau Rp 100.000 – Rp 250.000 per pasang,” terangnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jateng, Ihwan Sudrajat mengungkapkan, industri sepatu di provinsi ini masih jauh tertinggal dengan industri sepatu di sejumlah daerah lain seperti Jabar dan Jatim. Apalagi, produksi sepatu di Jateng masih belum masuk kriteria industri atau masih sebatas lingkup perajin. “Pesaing produk sepatu lokal ini adalah sepatu impor yang sekarang ini sudah mulai banyak masuk ke berbagai outlet pusat perbelanjaan. Ada sekitar 20 – 22 persen produk sepatu China di setiap outlet di Jateng,” Jelasnya.

Dia menambahkan, untuk meningkatkan daya saing sepatu lokal, pihaknya berencana mengikutsertakan perajin dalam pameran yang bertema produk kulit yang akan digelar Disperindag. “Tahun depan kami berencana membuat pameran untuk diikuti perajin khususnya produk dari kulit, seperti sepatu dan tas,” tuturnya.

Selain itu, Disperindag juga akan memberikan bantuan peralatan dan pelatihan bagi perajin sepatu yang jumlahnya sebanyak 40 perajin. “Provinsi jateng memiliki potensi besar dalam mengembangkan industri sepatu, karena banyak industri sepatu disini, seperti logo New Era dan Kasogi,” ungkapnya.

Sementara itu Disperindag Jateng merayakan hari sepatu nasional di halaman depan kantor itu, Jalan Pahlawan, Semarang. Ihwan menyatakan, perayaan pertama digelar di Jateng untuk mengingatkan  masyarakat agar mencintai produk sepatu nasional. “Indonesia memiliki industri sepatu yang sangat maju. Bahkan, banyak merek sepatu internasional memproduksi sepatunya disini,” jelasnya.

Ihwan menyampaikan, industri sepatu Jateng ke depan bisa melakukan ekspor sepatu ke luar negeri yang selama ini belum pernah dilakukan. “Harga sepatu lokal yang dibanderol 80 – 90 dollar Amerika, bila masuk ke pasar luar negeri bisa mencapai 500 dollar Amerika,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *