Sensasi Ketika Mengendarai Motor Antik

Diposting pada

Sehari – hari, penampilan Budi Santoso tidak berbeda dari pekerja kantor lainnya. Namun jika bertemu dengannya di akhir minggu, karyawan swasta sebuah perusahaan di Jakarta ini akan berubah menjadi layaknya Lorenzo Lamas di serial tahun 90-an, Renegade.

Kemeja kantor Budi akan berganti dengan jaket kulit dan sepatu pantofelnya berganti dengan sepatu bot. Yang paling utama, Budi akan meninggalkan mobilnya di garasi untuk menunggangi motor Harley Davidson 900 cc tahun 1972. Di waktu lain, Budi juga akan melaju dengan motor Birmingham Small Arms Company (BSA) tahun 1951 atau BSA tahun 1948. Pria berusia 37 tahun ini memang seorang pehobi motor besar antik.

“Saya tertarik pada motor antik itu pas sejak SMA. Waktu itu lihat di jalan dan mengendarai terlihat gagah,” ujar Budi, kamis (3/5) di Jakarta.

Sejak itu, pria kelahiran Depok, Jawa Barat, ini pun mulai mengenal motor antik lebih dalam. Baginya, paduan rangka badan motor yang besar , lampu unik dan sadel yang mantap jauh lebih menarik daripada sepeda motor masa kini yang cenderung lancip dan minimalis. Posisi porsneling yang berada di sebelah kanan dan rem berada di sebelah kiri, atau berkebalikan dengan motor masa kini, juga dinilai Budi sebagai daya tarik.

Setelah mampu memiliki motor antik pada 1998, Budi pun merasakan sensasi tersendiri yang tak bisa ia dapatkan saat mengendarai motor biasa. “Kita naik motor antik itu jadi artis jalanan. Kan banyak yang ngelirik,” ujarnya terkekeh.

Namun, daya tarik motor antik bukan sebatas penampilan. Umar Iskandar, salah seorang pehobi motor antik, berpendapat motor – motor tersebut juga unggul dalam kualitas. “Motor – motor yang diproduksi pada 1950-an itu blok – bloknya masih terbuat dari besi,” ungkap pria yang akrab disapa Umeng ini. “Makanya untuk jarak jauh, ke luar kota misalnya, itu (motor antik) enak banget,” tambahnya.

Umeng memulai hobi motor antik pada 1984. Di rumahnya kini terdapat BSA 500 cc tahun 1948 dan Sportster 900 cc tahun 1957. Pria 40 tahun itu juga pernah memiliki BSA 500 cc tahun 1942.

Seperti kebanyakan hobi otomotif lawas lainnya, hobi motor antik ini juga cukup menguras kocek. Dana yang harus disiapkan tidak hanya untuk membeli tapi juga untuk membuat motor itu bisa berjalan lagi. Dengan usia yang tua dan onderdil yang susah didapat, banyak dari motor ini dijual dalam keadaan mati.

Budi mengatakan, untuk mendapatkan Harley Davidson 1972, ia harus merogoh kocek Rp 40 juta. Ia lalu harus mengeluarkan Rp 20 juta lagi untuk ‘menghidupkan’ motor itu. Dua motor BSA yang dimiliki Budi juga dibeli dalam keadaan mati. Salah satu motor itu belum dapat ditunggangi hingga kini.

Di kalangan pehobi motor antik, motor merek BSA memang dikenal cukup sulit untuk bisa dikendarai lagi. Berbeda dengan Harley Davidson, onderdil motor BSA sudah tidak diproduksi lagi. Untuk mendapatkan onderdil bekas pun tidak mudah. Pehobi seperti Budi dan Umeng beberapa kali harus memesan onderdil hingga ke Australia dan Selandia Baru.

Jika onderdil tetap susah didapat, tidak ada pilihan lain selain menunggu. Namun bagi Budi, hobi motor antik tidak mesti harus dengan berkendara. Ketua Motor Antique Club Indonesia (MACI) Depok ini mengaku bisa menghabiskan waktu lama hanya untuk memandangi dan mengelus – elus motor tuanya. Rasa penat terhadap pekerjaan pun dikatakan bisa hilang hanya dengan ‘menengok’ motornya.

Tak menherankan, saking menggemari kesukannya itu, ia sempat ditegur sang istri. “Kalau hobi motor tua ini sampai istri iri karena merasa diduain,” aku Budi tertawa lepas. Namun belakangan, Budi mengaku sang istri mendukung penuh hobinya.

Terlebih Budi juge memberi pengertian kepada keluarganya bahwa hobi itu bukan sekedar menghambur – hamburkan uang untuk kendaraan. Nilai historis yang ada pada motor antik membuatnya ikut melestarikan sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *