Pengendara Mini Cooper Harus Humoris

Diposting pada

Apa yang terlintas dalam benak anda saat melihat tampilan mobil Morris Mini Cooper? Sosok tokoh komedi asal Inggris Rowan Atkinson , alias Mr Bean, lazimnya akan muncul pertama kali di benak sebagian besar masyarakat Indonesia.

Padahal, mobil itu sarat dengan jejak sejarah. Termasuk dalam kategori kendaraan murah yang sengaja di desain untuk konsumsi rakyat di Inggris, sejajar dengan Volkswagen keluaran Jerman. Di Indonesia, Mini Cooper telah populer sejak dikeluarkan pada 1959 oleh raksasa otomotif Inggris British Motor Corporation (BMC). Tokoh jenaka Mr Bean kemudian kembali memopulerkannya pada beberapa tahun silam. Mini Cooper hijau apel keluaran 1976 milik Mr Bean membekas di ingatan publik negeri ini.

Namun, Arya Aradhea, 28, pehobi Morris Mini Cooper merah menyala yang dipadukan dengan garis – garis putih di sisinya ini juga mengoleksi puluhan replika atau miniatur Mini Cooper beragam jenis dan warna. Koleksinya itu tersusun rapi di rak kayu di rumahnya bersama dengan aksesori lain seperti mug, kalender, serta beraneka buku yang semuanya menyangkut mini cooper.

“Awalnya dari ayah saya yang pada 1998 membeli Mini Cooper keluaran 1968. Setelah itu sekitar 2004 juga pernah punya Mini Cooper hijau sebelum akhirnya dijual karena perawatan bodi dan onderdilnya cukup mahal. Rata – rata spare partnya hanya ada di Inggris, jadi harus pesan dulu dan bayarnya pakai Pound Sterling,” kata Arya ketika ditemui di rumahnya, di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Arya kemudian sepakat dengan opini ayahnya tentang mobil itu. Mereka sama – sama terpikat dengan modelnya yang ringkas, tapi tangguh ala mobil keluaran Eropa, serta performanya gesit. Mobil itu punya sejarah sebagai juara di reli Monte Carlo pada 1964 hingga 1967.

“Mobil Mini Cooper sudah tidak lagi diproduksi di Inggris sejak 2000 dan terakhir masuk ke Indonesia pada 1979. Mobil ini sendiri ada tiga tipe, basic Mini Cooper 1000 cc, racing Mini Cooper 1300 cc, Serta tipe premium Mini Cooper S dengan 1300 cc. Yang membedakan dari mobil lain lebih pada perasaan kita saat menyetir, bodi yang kecil dan rendah membuat kita dapat mengemudi dengan gesit,” ujarnya.

Terkait dengan performa kecepatan, Mini Cooper tidak kalah dari mobil – mobil keluaran Jepang atau Korea yang kini populer. Mini Cooper bisa digeber hingga 180 kilometer per jam. Istimewanya lagi, meski tangki bensinnya lebih kecil dengan kapasitas 34 liter, Mini Cooper justru irit bensin, hanya mengkonsumsi 110 liter bensin per kilometernya.

“Spare part memang agak susah dicari, terutama untuk lampu sein, lampu belakang, logo atau dashboard. Tapi kalau untuk perawatan, enggak terlalu ribet, yang penting sering cek air radiator dan ganti komponen mobil tua,” ujarnya. Pria yang berprofesi sebagai dosen bahasa Inggris di Universitas Indonesia itu mengaku saat pertama kali melakukan perombakan mesin, bagian eksterior dan interior mobil, ia menghabiskan dana hingga 200 juta.

“Selain memuaskan nilai prestise dan eksklusivitas karena masih jarang ditemukan di jalanan Ibu Kota, juga dapat jadi investasi layaknya emas. Makin bermunculannya kelas menengah Indonesia memicu permintaan mobil – mobil antik yang tidak lagi diproduksi, harga mobil Mini Cooper akan semakin meningkat tiap tahunnya,” kata Arya.

Arya menuturkan, saat ayahnya membeli Mini Cooper keluaran 1968 pada 1998, harganya masih sekitar Rp 8 juta. Setelah dijual kembali baru – baru ini, harganya meningkat sampai Rp 180 juta. Saat ini Arya dan para pehobi Mini Cooper tergabung dalam komunitas Jakarta Morris Club (JMC) yang telah beranggotakan sekitar 200 orang.

“Siapa saja bisa bergabung, enggak harus punya mobil Morris. Kegiatan kami, selain kumpul bareng, juga donor darah serta bakti sosial saat touring. Keuntungan ikut bagi para pemula bisa minta advice terkait perawatan. Bagi yang mau beli juga bisa dapat dari anggota, jadi bisa menghindari penipuan,” jelasnya.

“Karena identik dengan Mr Bean, pemilik harus punya selera humor karena pasti ada saja orang yang nunjuk mobil kita sambil senyum. Tapi, mobil ini sejarahnya menarik karena di desain untuk mobil rakyat pada era 50-an saat Inggris krisis minyak akibat Revolusi Mesir. Maka dibuatlah mobil yang tidak boros bensin,” tuturnya.

Dari komunitas JMC tersebut, Muchamdany, 29, salah satu pehobi Mini Cooper lainnya, berhasil memiliki Mini Cooper S 1300 cc biru tua keluaran tahun 1976.

“Jatuh cinta kepada Mini Cooper setelah menonton Mr Bean. Sempat minta orang tua buat dibelikan juga, tapi ditolak mentah – mentah. Akhirnya saya termotivasi buat bekerja keras untuk membeli Mini Cooper dari awalnya yang hanya koleksi replikanya sampai 100 buah. Lalu bisa beli dari teman saya di JMC dua tahun lalu dengan harga sekitar Rp 100 juta,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *