Pelajar Beringas, Ada Apa?

Diposting pada

Tayangan media tentang sekelompok pelajar SMP yang membakar ruang kelasnya dengan alasan iseng, maupun ulah pelajar SD yang membunuh pelajar SMP hanya karena masalah graffiti mengundang keprihatinan mendalam. Apalagi pelakunya anak – anak yang masih di bawah umur yang seharusnya masih disibukkan dengan permainan yang menyenangkan.

Dua kejadian diatas hanyalah sebagian dari puluhan, bahkan ratusan kasus yang menempatkan pelajar sebagai pelakunya. Muncul pertanyaan di kalangan masyarakat ada apa dengan pelajar kita? Siapakah yang sakit, pelajar atau masyarakat?

Dalam pandangan psikologis, perilaku semacam itu merupakan bentuk salah arah pada diri remaja dalam upaya menemukan jatidirinya. Masa remaja (adolescence) adalah masa paling rawan dalam proses pertumbuhan. Satu sisi secara fisik anak telah memenuhi syarat sebagai seorang dewasa, di sisi lain belumj diimbangi dengan kedewasaan secara psikologis.

Kondisi semacam itu menempatkan mereka dalam posisi labil. Kecerdasan emosi yang belum matang mendorong remaja melakukan pencarian jati diri tanpa dilandasi dengan logika / rasio. Termasuk diantaranya bernagai perilaku yang cenderung beringas. Secara umum faktor – faktor yang turut berperan dalam pembentukan berbagai perilaku menyimpang tersebut yakni:

1. Beban kurikulum yang berat

Disadari atau tidak, sekolah saat ini menjadi salah satu tempat yang menyeramkan bagi sebagian siswa. KTSP yang digadang – gadang mampu memberikan rasa nyaman bagi siswa dalam belajar ternyata justru sebaliknya. Bagaimana tidak memberatkan jika dalam satu minggu seorang siswa SMA harus menyelesaikan 17 mata pelajaran yang terbagi dalam 39 – 43 jam pelajaran.

Tingkat frustasi siswa semakin tinggi dengan penentuan angka KKM yang dipaksakan, sehingga siswa yang tidak mampu secara akademis melakukan berbagai bentuk kompensasi negatif, mencontek, membolos, membuat kegaduhan dan lain – lain.

2. Kompetensi guru

Pada sisi lain guru juga dinilai turut berperan dalam pembentukan berbagai perolaku menyimpang pada diri pelajar. Dalam tataran ideal seorang guru mempunyai dua tugas penting, yaitu mengajar dan mendidik.

Tugas mengajar bagi seorang guru adalah tugas untuk mentransfer ilmu pada diri pelajar, sedangkan tugas mendidik bagaimana seorang guru harus mampu membentuk sikap dan perilaku siswa sesui norma yang berlaku.

Ironisnya, sebagian guru hanya terfokus pada tugas mengajar dan mengabaikan aspek pembentukan sikap dan perilaku siswa. Akibatnya, seakan – akan guru hanya mengejar target materi pelajaran yang harus diselesaikan sesuai tuntutan silabus.

3. Perhatian orang tua

Menurut Ki Hajar Dewantara, orang tua merupakan salah satu pilar utama pembentukan pribadi pelajar. Namun, peran tersebut semakin berkurang dewasa ini, tuntutan ekonomi membuat orang tua tidak mempunyai waktu bagi putra – putrinya.

Pemenuhan dalam segi materi dianggap sebagai imbalan atas kurangnya perhatian terhadap anak – anak. Tugas pembentukan sikap dan perilaku anak sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Kontrol yang kurang dari orang tua membuat anak leluasa melakukan aktivitas yang tidak bertanggung jawab.

4. Tayangan kekerasan

Salah satu ciri khas orde reformasi adalah keleluasaan masyarakat untuk mengakses berbagai informasi. Kebebasan ini diam – diam membawa dampak kurang bagus bagi perkembangan jiwa anak – anak.

Tayangan kekerasan berupa film maupun berita – berita kriminal membuat anak – anak familiar dengan peristiwa – peristiwa kekerasan. Bahkan beberapa media menampilkan reka adegan yang bukan tidak mustahil justru memberikan inspirasi bagi sebagian pihak untuk melakukan tindakan tersebut.

Berkaca dari fakta – fakta itu, tidak ada lagi yang dapat dilakukan selain terjalinnya kerja sama pihak pemerintah, sekolah dan orang tua. Komunikasi yang baik antara pelajar, sekolah dan orang tua memberikan rasa nyaman bagi mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *