Mampukah Jokowi Membuat Ibu Kota Lebih Manusiawi

Diposting pada

Pemilihan Gubernur DKI Jakarta telah berlangsung Rabu (11/7). Belum bisa dipastikan siapa yang bakal memimpin Ibu Kota lima tahun ke depan. Berdasarkan perhitungan cepat oleh beberapa lembaga survei, tidak ada satupun pasangan yang mengantongi 50% plus satu suara untuk memastikan kemenangan.

Dua pasangan yaitu Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama dan Fauzi Bowo – Nachrowi Ramli meraih suara tertinggi pertama dan kedua. Versi hitung cepat Indo Barometer pukul 15.40 menunjukkan pasangan Jokowi – Ahok meraih suara terbanyak dibanding lima kandidat lainnya. Pasangan yang diusung PDIP dan Gerindra itu meraih 42,5% suara, sedangkan pesaingnya pasangan Foke – Nara meraup 33,9% suara. Hitung cepat memang bukan menjadi patokan untuk menentukan pemenang dalam pilkada.

Pemenang akan ditentukan dari hasil perhitungan manual yang dilakukan oleh lembaga resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jakarta pada 20 Juli. Akan tetapi, hasil hitung cepat tidak jarang mendekati kebenaran, apalagi dengan selisih yang begitu besar. Selisih perhitungan 0,1 – 2,0 persen bisa menimbulkan perdebatan. Lain halnya dengan selisih suara hingga mencapai 10 persen, boleh dikatakan hampir mendekati dengan hasil final hitung manual.

Mengingat Jakarta merupakan daerah khusus ibu kota , aturan pun dibuat khusus. Pilkada di daerah lain mengacu pada Undang – Undang No 30 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Pemenangnya adalah yang meraih suara diatas 30 persen. Sementara Jakarta mengacu pada Undang – Undang No 29 Tahun 2007 Tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta Sebagai Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pemenang Pilgub DKI dalam aturan itu harus meraup 50 persen plus satu suara. Bila tidak ada yang meraih 50 persen plus satu, maka suara peraih terbanyak pertama dan kedua berhak maju dalam putaran kedua. Itu artinya pasangan Jokowi – Ahok dan Foke – Nara akan bertarung lagi. Sementara empat pasangan lain keok. Dari survei tersebut, pasangan Soepandji – Ahmad Riza Patria, Hidayat Nur Wahid – Didik Rachbini, Faisal Basri – Biem Benjamin, dan Alex Noerdin – Nono Sampono jauh tertinggal.

Apa yang ditangkap dari hasil tersebut? Jokowi membalikkan anggapan banyak pengamat terutama politikus yang menyerang dengan azas primordialis. Selama ini banyak pernyataan sinis yang meragukan kemampuan Wong Solo memimpin DKI. Dia bersama Ahok berasal dari Belitung memang teruji sebagai kepala daerah di kampung halamannya. Solo dibawah Jokowi begitu moncer.

Simpati dari masyarakat begitu luas dengan kepemimpinannya yang dikenal humanis. Salah satunya paling dikenal adalah pemindahan PKL dari kawasan Banjarsari yang berlangsung tertib. Tak hanya Jokowi, Alex Noerdin juga pendatang yang kini masih menjadi Gubernur Sumatera Selatan. Hasil hitung cepat itu membalikkan sinisme politikus. Meski unggul sementara, pemenang yang berhak maju ke putaran kedua tentu tak boleh lengah. Siapapun yang terpilih, dia harus mampu membawa rakyat Jakarta keluar dari jerat kemiskinan.

Jakarta harus menjadi kota yang layak huni dan manusiawi. Bukan menjadi kota metropolis yang tak berperikemanusiaan dan pelayanan yang berorientasi materi belaka. Pemimpin yang tidak bisa mewujudkan tujuan tersebut, sama saja akan memperpanjang catatan orang Betawi: Gubernur DKI adalah Ali Sadikin, yang lain hanya penggantinya. Begitu hebatnya Ali Sadikin membawa Jakarta menjadi kota metropolitan yang tetap memanusiakan penghuninya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *