Ikuti Kata Hati & Jadi Diri Sendiri

Diposting pada

Hidup itu sungguh tidak sederhana. Seringkali kita hidup tidak menuruti kata hati, namun lebih cenderung mengikuti apa kata orang. Mulai dari urusan perut, gaya rambut, kendaraan, hingga urusan apa yang menempel di badan kita alias gaya berpakaian.

Pernah suatu ketika saya bertemu seorang teman lama di sebuah pusat perbelanjaan. Begitu melihat saya, teman lama ini langsung mengenali. Saya senang, karena setelah sekian tahun tidak ketemu, dia masih mengenali wajah saya. Itu artinya tidak banyak perubahan pada wajah, alias saya masih nampak awet muda. Itu cukup melegakan hati.

Namun teman saya yang usil ini mulai mengomentari soal tubuh saya yang kurus dan rambut saya yang mulai ada ubanannya. Wah seketika itu juga, rasanya semua orang jadi menoleh ke arah saya melihat tubuh kurus dan uban di rambut saya.

Terlebih lagi teman yang benar – benar suka mengurusi orang lain ini menambahkan sebuah pertanyaan, “Kamu sakit apa kok kelihatan kurus?”. Aduhhh.. Saya jadi merasa seperti orang berpenyakitan, padahal sebelum bertemu teman saya ini, saya merasa sehat – sehat saja.

Sepulang di rumah, saya masuk ke kamar dan melihat diri saya di cermin. Saya amat – amati tubuh dan rambut saya. Kurang puas dengan gambar tubuh saya yang terpantul di cermin, saya pun menimbang badan dengan timbangan digital.

Ahh, ternyata berat saya masih normal. Tidak jauh berbeda dengan saya saat duduk di bangku SMA, bahkan kelebihan beberapa kilogram.

Saya berpikir – pikir, kenapa teman saya ini mengatakan saya kurus, kalau kenyataannya berat saya stabil sejak dulu hingga sekarang. Aha! Saya baru sadar, bahwa teman saya tadi perutnya buncit dan ukuran tubuhnya jauh lebih besar daripada saat kami sama – sama sekolah. Terang saja ia melihat saya lebih kurus.

Fakta sebenarnya adalah teman saya yang badannya membengkak lebih besar, sehingga ia melihat saya seolah – olah ‘mengecil’. Nah, begitu urusan berat badan terpecahkan, maka urusan uban tidak jadi masalah, karena toh di salah satu profesi saya sebagai narasumber dan trainer, jumlah uban berkorelasi positif dengan tarif.

Poin saya adalah jika kita hidup dengan terus – menerus mendengarkan apa kata orang, maka kita tidak akan pernah hidup tenang dan bahagia. Kita akan seperti hidup di dalam sangkar, karena segala gerak langkah dan pilihan hidup kita selalu dibatasi oleh apa kata orang lain.

Salah satu resep untuk hidup bahagia dan suka cita sepanjang hari adalah dengan menjadi diri sendiri dan mengikuti apa kata hati. Bolehlah kita mendengarkan orang sebagai masukan. Namun ambilah keputusan dan jalan hidup berdasarkan kata hati yang paling dalam, karena hati tak pernah salah.

Latihlah kepekaan untuk mendengarkan suara hati anda dan nikmati hidup berkelimpahan yang telah disediakan Tuhan bagi kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *