hIKmAh zAKat

Diposting pada

Hikmah Zakat
Hikmah Zakat

Karena kesibukan yang gak bisa ditinggal akhirnya saya baru sempat meneruskan tulisan masalah zakat. Kali ini saya akan mencoba menulis, apa aja sih hikmah dari zakat itu? Oh iya bagi soba yang belum apa itu zakat bisa kesini, dan apa aja syarat2 zakat bisa kesini.

Ok, langsung aja ke hikmah zakat:

  1. Pembersih diri dan harta dari segala sifat-sifat kikir, bakhil dan sejenisnya. (QS.9:103).
  2. Mendapat pahala yang besar (QS.4:162).
  3. Zakat membersihkan harta. “Allah SWT telah menjadikan zakat itu sebagai pemberish bagi harta”. (HR. Bukhari).
  4. Orang yang berzakat termasuk dalam 7 golongan yang dinaungi Allah SWT di hari kiamat. “Ada 7 golongan yang akan dinaungi Allah pada hari kiamat kelak”… (salah satu diantaranya) adalah orang yang bersedekah dengan merahasiakannya agar keikhlasannya terjaga”. (HR. Bukhari).
  5. Merasakan cita rasa iman. “Ada tiga hal, barang siapa yang melakukan tiga hal itu, niscaya dia merasakan cita rasa iman:…(salah satunya) ialah mengeluarkan zakat hartanya dengan hati yang baik dan ikhlas…” (HR. Abu Daud).
  6. Menumbuhsuburkan harta (Semakin bertambah dan berkembang). (QS.2:261).
  7. Membantu meringankan bebean kaum fakir/miskin. “Allah SWT mewajibkan bagi orang-orang kaya muslim agar mengeluarkan sebagian harta mereka untuk membantu fakir miskin diantara mereka. Para fakir miskin tidak akan mempu berjihat dalam keadaan lapar kecuali mereka dibantu orang-orang kaya yang ada diantara mereka…”(HR. Thabrani).
  8. Zakat memelihara harta orang kaya. “Peliharalah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit dengan sedekah dan tolaklah bala’ dengan do’a”. (HR. Thabrani dan Ibnu Mas’ud).

Itulah 8 dari sekian banyak hikmah dari berzakat, jika masih ada mohon kiranya sobat bisa menambahi dan silahkan tulis dibagian komentar.

Incoming search terms:

hikmah zakat (1146),hikmah mengeluarkan zakat (82),hikma zakat (49),hikmah berzakat (48),hikmah zakat mal (27)

3 thoughts on “hIKmAh zAKat

  1. makasih telah membuat resume hari jum’at 🙂
    semoga jadi amal ibadah bagi mas heri

    Hehehe…. resume ini tujuan awalnya juga untuk selalu mengingatkan saya

  2. Pertama, sebagai perwujudan iman kepada Allah SWT, mensyukuri nikmat-Nya, menumbuhkan akhlak mulia dengan memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, menghilangkan sifat kikir dan rakus, menumbuhkan ketenangan hidup, sekaligus mengembangkan harta yang dimiliki. Selain itu, zakat juga bisa dijadikan sebagai neraca, guna menimbang kekuatan iman seorang mukmin serta tingkat kecintaannya yang tulus kepada Rabbul ‘izzati. Sebagai tabiatnya, jiwa manusia senantiasa dihiasi oleh rasa cinta kepada harta, sebagaimana firman Allah,

    “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran[3]:14)

    Kedua, menolong, membantu dan membina kaum dhu’afa (orang yang lemah secara ekonomi) maupun mustahiq lainnya ke arah kehidupannya yang lebih baik dan lebih sejahtera, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak, dapat beribadah kepada Allah SWT, terhindar dari bahaya kekufuran, sekaligus memberantas sifat iri, dengki dan hasad yang mungkin timbul ketika mereka (orang-orang fakir miskin) melihat orang kaya yang berkecukupan hidupnya tidak memedulikan mereka.

    Ketiga, Sebagai sumber dana bagi pembangunan sarana maupun prasarana yang dibutuhkan oleh ummat Islam, seperti saran ibadah, pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi, sekaligus sarana pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) muslim.

    Keempat, Untuk mewujudkan keseimbangan dalam kepemilikan dan distribusi harta, sehingga diharapkan akan lahir masyarakat makmur dan saling mencintai (marhammah) di atas prinsip ukhuwah Islamiyyah dan takaful ijtima’i.

    Kelima, menyebarkan dan memasyarakatkan etika bisnis yang baik dan benar.

    Keenam, menghilangkan kebencian, iri, dan dengki dari orang-orang sekitarnya kepada yang hidup berkecukupan, apalagi kaya raya serta hidup dalam kemewahan. Sementara, mereka tidak memiliki apa-apa, sedang tidak ada uluran tangan dari orang kaya kepadanya.

    Ketujuh, dapat menyucikan diri dari dosa, memurnikan jiwa (tazkiyatun nafs), menumbuhkan akhlak mulia, murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan, dan mengikis sifat bakhil atau kikir serta serakah. Dengan begitu, suasana ketenangan batin karena terbebas dari tuntutan Allah SWT dan kewajiban kemasyarakatan, akan selalu melingkupi hati.

    Kedelapan, menjadi unsur penting dalam mewujudkan keseimbangan dalam distribusi harta (social distribution), dan keseimbangan tanggung jawab individu dalam masyarakat.

    Kesembilan, zakat adalah ibadah mâliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi sosial ekonomi atau pemerataan karunia Allah SWT dan merupakan perwujudan solidaritas sosial, rasa kemanusiaan, pembuktian persaudaraan Islam, pengikat persatuan umat dan bangsa, sebagai pengikat batin antara golongan kaya dengan golongan miskin dan sebagai penimbun jurang yang menjadi pemisah antara golongan yang kuat dengan yang lemah.

    Kesepuluh, mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera, di mana hubungan seseorang dengan yang lainnya menjadi rukun, damai, dan harmonis yang akhirnya dapat menciptakan situasi yang aman, tenteram lahir batin. Dalam masyarakat seperti itu tidak akan ada lagi kekhawatiran akan hidupnya kembali bahaya atheisme dan paham atau ajaran yang sesat dan menyesatkan. Sebab, dengan dimensi dan fungsi ganda zakat, persoalan yang dihadapi kapitalisme dan sosialisme dengan sendirinya sudah terjawab. Akhirnya sesuai dengan janji Allah SWT, akan terciptalah sebuah masyarakat yang baldatun thoyibatun wa rabbun ghafûr (lingkungan masyarakat yang ideal; berkah; maju, dan dirahmati Allah)

    Kesebelas, menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang berdiri atas prinsip-prinsip: umatan wahidah (umat yang bersatu), musâwah (umat yang memiliki persamaan derajat dan kewajiban), ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam), dan takâful ijtima’i (sama-sama bertanggung jawab).

    * Dikutip dari buku “Panduan Pintar Zakat” QultumMedia. Jakarta. 2008. (http://www.qultummedia.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *