Buku Terbaik Yang Layak Dibaca

Diposting pada

Suatu hari seorang teman bertanya kepada saya melalui pesan singkat: “Buku apa yang bagus untuk dibaca dan bermanfaat?” Saya berpikir cukup lama untuk menjawab pertanyaan ini. Pikiran saya melayang ke deretan buku – buku yang ada di ruang perpustakaan mini di rumah saya.

Saya mencoba memikirkan buku – buku yang pernah saya baca dan menjadi koleksi terbaik di dalam ruangan kecil tempat harta ilmu pengetahuan saya tersimpan. Pikiran saya menari – nari di antara sederetan buku – buku bagus mulai dari tulisan Stephen Covey, Jack Canfield, Robin Sharma, John Maxwell, Napoleon Hill, Dale Carnegie, hingga buku – buku spiritual karya Anthony de Mello, Eknath Easwaran, Dalai Lama, Deepak Chopra dan Ajahn Brahm. Tidak ketinggalan juga buku – buku karya penulis nasional, seperti Jakob Oetama, Ir Ciputra, hingga Tung Desem Waringin.

Akhirnya saya menjawab singkat: “Buku yang terbaik adalah buku yang mengubahkan hidup kita”. Ya, seringkali kita membaca buku bagus, best seller karya penulis terkenal, namun apa yang kita baca itu hanya berhenti di kepala. Menjadi sebatas pengetahuan saja. Maka apa yang sudah kita baca tersebut tidak banyak gunanya, selain memenuhi memori kepala kita.

Pengetahuan yang tidak diamalkan tidak ada manfaatnya. Kalimat ini mengandung arti, bahwa apapun yang menjadi pengetahuan sebaiknya bisa dipraktekkan atau diterapkan dalam kehidupan. Penulis – penulis hebat yang telah saya sebutkan tadi telah menuliskan segudang nasehat dan petuah hidup yang bisa membawa kita ke jenjang kehidupan yang lebih baik. Namun tidak cukup dengan hanya membacanya saja, kita perlu melakukan apa yang ditulis tersebut menjadi sebuah praktek nyata, hingga menjadi sebuah kebiasaan baru yang terbentuk atau bahkan menghilangkan kebiasaan lama yang buruk.

Dalam pengalaman, saya banyak melihat teman – teman yang ‘senang’ belajar. Mereka melahap semua pengetahuan yang ada, bahkan tidak hanya dari buku, juga dari berbagai seminar dan pelatihan yang bisa diikutinya. Berbagai sumber belajar dari media pun dikunyah habis. Namun banyak dari orang – orang ini memiliki kehidupan yang biasa – biasa saja. Orang – orang ini hanya menumpuk semua pengetahuan yang ada, tanpa pernah mempraktekkannya. Ia bisa menjawab semua persoalan secara literal dan kognitif, namun giliran praktek nyata orang – orang semacam ini biasanya akan mundur teratur.

Entah karena malas atau takut, banyak orang – orang yang ingin berkembang, namun tidak melakukan apa yang perlu dilakukan untuk berkembang. Tindakan nyata memang membutuhkan energi dan konsekuensi, dan tidak semua orang siap mengatasinya.

Nah, kembali pada urusan buku yang terbaik, sebenarnya semua buku pengembangan diri itu baik, asalkan ada minimal satu hal sederhana yang kita praktekkan dan terapkan dalam diri, sehingga akan mengubahkan hidup kita menjadi lebih baik. Hal ini membutuhkan sikap proaktif dari dalam diri kita sendiri. Buku bagus tidak akan mampu mengubah kita, namun hanya kemauan dan sikaplah yang akan membuat perbedaan dalam hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *