Buku Antologi Puisi Berjudul ‘Wajah’

Diposting pada

Tuk kukatakan padamu jika perjumpaan itu tinggal cerita lalu sepanjang waktu, bayang – bayang menjadi kata tak kukatakan bahwa burung – burung itu kutitipkan sepasang mata dan dengan air mata, aku tulis kabar tentangmu tak kukatakan tentang janji yang masih dihati mengikis sebagian waktu, juga mimpiku tak kukatakan.

Begitulah cuplikan salah satu puisi yang terdapat dalam buku antologi puisi berjudul wajah. Buku antologi ini ditulis Ichsan Yuniato Nuansa Putra, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan beserta teman – temannya yang tergabung dalam teater JAB (Jaringan Anak Bahasa).

Wajah, judul buku antologi tersebut merupakan penggambaran dari wajah yang dihadirkan dalam puisi – puisi yang terdapat di dalam antologi puisi tersebut. “Judulnya wajah, karena merupakan kumpulan puisi. Setiap orang memiliki wajah dan puisi juga memaknai variasi wajah dari setiap penyairnya,” terang Ichsan.

Buku antologi puisi ini awalnya dimaksudkan sebagai kenang – kenangan serta wadah mahasiswa lebih mengenal sastra terutama puisi, kemudian melihat minat terhadap buku antologi tersebut sangat banyak, akhirnya buku antologi tersebut dipasarkan dan sudah terjual sebanyak 200 eksemplar. Proses pengerjaan sendiri membutuhkan waktu dua bulan.

Dalam buku antologi puisi tersebut terdapat 156 puisi dan 12 syair musik puisi, ditulis mahasiswa JAB dan penyair tamu. Buku ini merupakan karya kedua, karena sebelumnya mereka sudah mengeluarkan buku antologi pusi berjudul Taman Mimpi Nawawasa.

Ichsan memaknakan puisi sebagai sesuatu yang indah serta melaluinya bisa lebih bebas mengungkapkan sesuatu. Kemudian puisi juga merupakan sesuatu yang murah dalam artian mudah untuk diciptakan. Selain menciptakan antologi puisi, Ichsan dan rekan – rekannya yang tergabung dalam teater JAB juga aktif dalam musikalisasi JAB.

Mereka mengaransemenkan naskah puisi menjadi sebuah syair musik puisi seperti Doa Sederhana, Sajak Tanpa Judul, Rimba, Aku Harus Pergi, Syair Leiser, Tanpa Balas, Matahari Membakar Wajahmu dan Khasidah Dari Negeri Hijau Mimpi. Semua syair – syair musik puisi tersebut bisa didapat di dalam buku antologi puisi wajah.

Meskipun terus berkarya bersama Teater JAB, Ichsan tetap mengutamakan masalah akademiknya. Nyatanya prestasi akademik Ichsan bersama teman – temannya tidak mengalami kemerosotan dan mereka terus berkarya.

“Kami akan terus berkarya, karena suatu karya merupakan sebuah sejarah, dan sejarah itu harus dilanjutkan jangan berhenti sampai disini saja. Manusia akan lebih dikenang apabila membuat suatu karya,” tandas Ichsan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *