Bisnis Bordir Komputer Padurenan Menggeliat

Diposting pada

Tak salah jika Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menetapkan Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, Sebagai Desa Produktif Bordir dan Konveksi sejak tahun 2009. Sebab, usaha bordir dan konveksi di Desa Padurenan, terus menggeliat. Kini, ada 108 pengusaha bordir dan konveksi di Desa Padurenan. Mereka tergabung dalam Koperasi Unit Usaha (KSU) Padurenan Jaya.

Pada tahun 2012, KSU Padurenan Jaya mendapatkan hibah dua unit mesin bordir komputer (MBK) dari Pemkab Kudus dan Pemprov Jawa Tengah. Dua MBK itu, rata – rata mampu memberikan pemasukan Rp 10 juta per bulan kepada KSU Padurenan Jaya.

Menurut Kepala Desa Padurenan, Arief Chuzaimahtum, MBK buatan China tersebut, berkekuatan 12 stik (tusukan) sehingga kemampuan produksinya berlipat ganda dibanding mesin bordir konvensional. Untuk mengoperasikan mesin tersebut, ada sembilan tenaga kerja yang menangani MBK secara bergantian. Salah satu diantaranya bertindak selaku desainer.

Mu’awanah, salah satu operator MBK mengatakan, keterampilannya diperoleh dari mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Balai Pelatihan Kerja (BLK) Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kudus. Upah yang ia terima, rata – rata Rp 20.000 per hari dan kadang dirinya juga masih mendapat bonus jika jumlah garapannya melebihi kuota yang telah disepakati bersama.

“Memang ada kecenderungan naik. Bahkan, bertambah ramai, terutama saat menjelang lebaran dan tahun ajaran baru (jelang masuk sekolah) sehingga mesin dioperasikan selama 24 jam,” tambahnya.

Arief menambahkan, konsumen unit usaha MBK adalah para anggota KSU Padurenan Jaya Mandiri. Adapun biaya untuk membordir dengan MBK ditetapkan antara Rp 0,13 hingga Rp 0,15 per tusukan, disesuaikan dengan jenis kain dan benang yang digunakan. “Satu kain jumlah tusukan bisa mencapai ratusan. Padahal, jumlah kain yang hendak dibordir lumayan banyak, sehingga biaya produksi otomatis naik. Namun, hasil produksinya lebih baik dan bisa diproduksi dalam jumlah besar,” tambah Arief.

Selain dari penghasilan unit MBK, menurut Sekretaris Desa Padurenan, Achanuddin Ismanto, KSU Padurenan Jaya, juga memperoleh pendapatan yang lebih besar lagi dari unit pengadaan bahan baku dan bahan pendamping / pendukung rata – rata Rp 60 juta – Rp 70 juta per bulan. Seperti pengadaan aneka jenis kain, benang, hingga resleting terkenal buatan Yoshida Kagyo Kabushikikaisha (YKK).

“KSU juga membantu dalam bentuk pemasaran, desain baru hingga tambahan permodalan bagi 16 anggota KSU masing – masing Rp 3 juta,” imbuh Achanuddin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *