Belalang Goreng, Makanan Lezat & Bergizi Tinggi

Diposting pada

Hidangan unik, tapi lezat dan bergizi tinggi, yaitu belalang goreng, masih saja menjadi makanan kegemaran penduduk Semanu, Gunung Kidul. Barangkali, kegemaran mengkonsumsi belalang goreng itu diawali sejak daerah berbatu kapur di era tahun 60-an itu dicap sebagai daerah miskin. Pada era itu, menurut Sukisman (64), seorang petani yang tinggal di desa Njelog, belalang digunakan sebagai penganan pengganti lauk. “Kalau makan tiwul (makanan pengganti beras dari gaplek) ndak punya lauk berburu ke hutan, cari belalang terus dikropok. Rasanya gurih, nglawuhi,” ujar Sukisman seraya tersenyum.

Menurut pengakuan para penjaja belalang mentah di pinggir jalan raya Semanu – Wonosari, penghasilan berjualan hanya cukup untuk menopang beban keluarga sehari – hari. Kalau lagi apes, ujar Mugiyanto (43), berjualan sepanjang hari hanya bisa membawa pulang sekitar Rp 15.000. Padahal untuk menutup kebutuhan hidup sehari – hari, ia harus merogoh kocek minimal Rp 25.000. “Selain untuk membeli keperluan makan sehari – hari, juga untuk beli bensin, kulakan (beli belalang dari pengepul) dan jajan anak sekolah,” katanya.


Mugiyanto menyatakan, adakalanya penghasilan jualan belalang dapat menutup kebutuhan makan sehari – hari keluarganya. Tetapi bila musim paceklik belalang, Mugiyanto harus berpikir keras mencari tambahan agar asap dapur tetap terjaga. Tidak mengherankan jika Mugiyanto dan teman – teman seprofesinya acap berburu belalang ke desa – desa tetangga yang jauh dari tempat tinggalnya.

“Tidak sulit menangkapnya, berbekal jaring dan genther (bilah kayu panjang). Berburu belalang sering saya lakukan sampai ke hutan dekat pantai selatan bersama tetangga sedesa berboncengan, biar ngirit,” ujarnya.

Kosakata ngirit dalam istilah ekonomi sebenarnya merupakan kata kunci pertahanan biduk rumah tangga. Kata itu pulalah yang menjadikan Mugiyanto dan teman seprofesi pemburu maupun penjual belalang mampu mensiasati gersangnya wilayah perbukitan kapur Gunung Kidul dengan mengandalkan belalang.

Baginya, berjualan belalang tidak memerlukan kepiawian bernegoisasi dengan pemilik modal. Bahkan, ia juga tidak perlu repot – repot menyodorkan proposal pembiayaan ke bank yang perlu agunan. Mugiyanto cukup menyisihkan sekitar Rp 100.000 untuk modal berburu belalang segar di berbagai desa di sekitar Kabupaten Wonosari. Dengan modal kecil itulah Mugiyanto dan para pemburu belalang mengadu peruntungan.

Rusmandi (43), warga Desa Playen, mengaku tetap berusaha mencari belalang goreng, meski telah lama hijrah ke Jakarta. “Kalau sudah tidak tahan pengin makan belalang goreng, kadang minta dikirimin yang sudah jadi dalam kemasan. Coba saja, enak kok,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *