Atasi Titip Absen Dengan Sidik Jari

Diposting pada

“Registrasi finggerprint, selamat tinggal kebiasaan titip absen”, begitu bunyi tweet dengan akun @erik3adi, salah satu mahasiswa Fisipol, Universitas Gadjah Mada (UGM) di situs jejaring sosial Twitter, bulan lalu. Fisipol, UGM memang sudah menerapkan absensi menggunakan sidik jari ‘finggerprint’ bagi mahasiswa, dosen maupun karyawannya.

Umumnya, absensi untuk mengetahui kehadiran mahasiswa , berupa tanda tangan pada lembar absensi yang diedarkan dengan sistem putar. Mereka yang mengisi tanda tangan bisa diartikan hadir atau mengikuti proses perkuliahan yang tengah berlangsung. Penggunaan tanda tangan sebenarnya dimaksudkan untuk menghindari kecurangan. Namun, kenyataannya titip absen terus berlangsung.

Memanfaatkan perkembangan teknologi yang semakin pesat, Fisipol, UGM telah beralih menggunakan sidik jari dalam absensi kehadiran kuliah. Sistem ini juga terintegrasi dalam Sistem Informasi Akademik (SIA) UGM. Dengan sidik jari, absensi menjadi sistem yang cepat dan memiliki nilai lebih karena orang tua dapat mengontrol kehadiran anaknya.

Alat pindai sidik jari kini sudah diletakkan di ruang kelas kuliah. Untuk saat ini masa percobaan absensi sidik jari sudah dilakukan untuk mahasiswa Strata 1 (S1). “Dengan memakai finggerprint, dapat memperoleh data yang akurat dan data langsung masuk ke SIA akademik Fakultas,” Jelas Asep Wahyudin Purnomo SKom, Koordinator Software Development System, Fisipol UGM.

Kebutuhan data kehadiran mahasiswa yang akurat karena menjadi penting sebagai basis data penerapan kebijakan 75% kehadiran mahasiswa dalam perkuliahan. Kelebihan lainnya adalah menghemat kertas, efisiensi waktu dalam memasukan data absensi mahasiswa dan dosen.

Keberadaan finggerprint ini mendapat sambutan cukup hangat dari dosen. Keberadaan absensi sidik jari diharapkan mampu melatih kejujuran mahasiswa. Sebab tidak ada lagi ruang untuk praktek titip absen di kelas.

“Finggerprint melatih kedisiplinan mahasiswa untuk mengikuti pembelajaran di kelas dan dosen juga disiplin dalam mengajar,” jelas Hempri Suyatna SSos Msi, dosen Jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSDK) Fisipol, UGM.

Hal senada disampaikan Wahyu Budi Nugroho, Asisten Peneliti Jurusan Sosiologi, yang mengatakan absensi sidik jari dapat melatih karakter mahasiswa. Praktek titip absen, merupakan bentuk korupsi di kalangan mahasiswa. “Banyak mahasiswa mulai belajar korupsi dengan melakukan titip tanda tangan. Selama ini mahasiswa Indonesia masih malas, jadi masih perlu dipaksa belajar lewat aturan 75% absensi. Finggerprint merupakan salah satu sarana biar tidak bisa curang,” ujarnya.

Kritikan terhadap penerapan kebijakan ini muncul dari mahasiswa. “Dari pada finggerprint, urgensi masalah lain masih ada misalnya yang lebih berguna pada mahasiswa yakni koleksi buku perpustakaan yang lebih penting supaya bisa memperbanyak buku kontemporer,” jelas Dwi Setyowati, Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Ilmu Politik dan Pemerintahan, Fisipol, UGM.

Senada dengan Dwi Setyowati, Putri Indah Nurani menilai, penerapan absensi sidik jari ini menunjukkan ketidakpercayaan fakultas terhadap mahasiswa. Hal yang berbeda dialami Siti Robiah, Mahasiswa Ilmu Politik dan Pemerintahan ini mengaku bahwa setuju dengan absensi sidik jari agar teman – teman tidak hanya titip tanda tangan, jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *