Anak Berkelamin Ganda, Orang Tuanya Bingung

Diposting pada

Pasangan Andi Juandi (33) dan Mutmainah (33) masih kebingungan terkait jenis kelamin anaknya, Muhammad Hasbi Al Husaini (4). Sebab anaknya diduga mempunyai kelamin ganda (ambigus genitalia). Sedang untuk memastikan jenis kelamin yang dominan, perlu dilakukan tes kromosom dengan biaya sekitar Rp 1 juta. Pasangan pemulung dan buruh ini merasa berat dengan biaya tersebut.

Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Purworejo, dr Darus, usai mengecek alat kelamin bocah itu, menjelaskan, perlu dilakukan tes kromosom. Setelah itu orang tua bisa mengarahkan kebiasaan dan perilakunya sesuai hasil uji. Namun, tes tersebut belum bisa dilakukan RSUD Purworejo, melainkan di rumah sakit besar di Yogyakarta. “Orang tua sebaiknya jangan memaksakan perilaku Hesbi sebelum menjalani tes kromosom, lantaran sifatnya masih mungkin berubah ketika usianya sudah dewasa. Jika sudah jelas, baru bisa diambil tindakan termasuk dengan operasi,” ungkapnya.

Derita ini memang tidak bisa diprediksi sebelumnya. Waktu itu, ketika dilakukan Ultrasonography (USG) kandungan Mutmainah, dokter menyatakan janin berjenis kelamin perempuan, karena tidak terlihat testis maupun kemaluan pria.

Kemudian, usai dilahirkan di Bandung, dokter dan keluarga bingung karena alat kelamin Hasbi tidak terbentuk normal seperti bayi lainnya. “Dokter mengatakan, ada semacam lubang dibawah kelamin, namun saluran uterus dan rahimnya tidak jelas. Sementara dikatakan lelaki, kemaluannya tidak berbentuk normal, testis juga tidak nampak,” kata Mutmainah, sang ibu.

Saat berumur setahun, Hasbi dibawa pulang ke rumah kakeknya di RT 03 RW 02 Dukuh Grojogan, Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo. Ia menjalani hidup dan bermain dengan teman sebayanya. Hingga usia empat tahun, tidak ada yang berubah dengan kelaminnya. “Sampai sekarang, kemaluan pria tidak tumbuh normal, hanya seperti tonjolan kecil. Namun, Hasbi buang air kecil melalui tonjolan itu dan tidak pernah kesulitan atau sakit,” ujarnya.

Keluarga sengaja tidak meneruskan pengobatan, setidaknya sampai menyelesaikan tes kromosom karena keterbatasan biaya. Selain Andi hanya pemulung dan istrinya buruh kerajinan rumahan yang penghasilannya pas – pasan, keluarga ini juga tidak terdaftar dalam kepesertaan jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas).

Andi Juandi mengaku bingung dengan masa depan Hasbi. Sebab, meski berdandan sebagai laki – laki dan gemar bermain bola, anak semata wayangnya itu juga kerap berperilaku seperti perempuan. “Kami bingung harus bagaimana, namun sementara Hasbi jadi laki – laki dulu karena dokter di Bandung mengatakan sifat anak itu dominan laki – laki. Dalam akta kelahiran, Hasbi juga berkelamin laki – laki,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *