Menyambut Ramadhan, Amalan bulan Sya’ban

Sumber : pesantrenvirtual.com

Saudara-saudara seiman

Menyambut Ramadhan

Menyambut Ramadhan

Mari kita sambut bulan Ramadhan yang penuh berkah mulai bulan Sya’ban ini.
Kita persiapkan diri kita baik fisik dan rohani untuk bulan yang penuh
karunia tersebut.

Mempersiapkan rohani kita adalah dengan mulai mempelajari hal-hal penting
yang perlu kita amalkan selama bulan tersebut. Kita buka kembali pelajaran
fiqhus-syiyam kita, yaitu fikih berpuasa yang benar dan sesuai ajaran.
Kita sadarkan diri dan kesadaran kita akan pentingnya bulan tersebut bagi
agama dan keimanan kita.

Secara fisik, kita juga harus mempersiapkan diri di bulan ini dengan
melatih diri memperbanyak ibadah dan khususnya puasa. Itulah salah satu
hikmah kita dianjurkan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban ini. Dan di
bulan Sya’ban ini juga ada malam nisfu sya’ban, yaitu malam pertengahan
bulan Sya’ban. Lepas dari kuat tidaknya dalil mengenai amalam pada malam
tersebut, namun malam itu bisa kita jadikan waktu pengingat kembali akan
persiapan-persiapan kita dalam menyambut bulan Ramadhan yang penuh
maghfirah. Berikut ini hadist-hadist seputar keutamaan bulan Sys’ban
semoga bisa kita baca dan amalkan:

Dari Aisyah r.a. beliau berkata:”Rasulullah s.a.w. berpuasa hingga kita
mengatakan tidak pernah tidak puasa, dan beliau berbuka (tidak puasa)
hingga kita mengatakan tidak puasa, tapi aku tidak pernah melihat beliau
menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak
pernah melihat beliau memperbanyak puasa selain bulan Ramadhan kecuali
pada bulan Sya’ban”. (h.r. Bukhari). Beliau juga bersabda:”Kerjakanlah
ibadah apa yang engkau mampu, sesungguhnya Allah tidak pernah bosan hingga
kalian bosan”.

Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah s.a.w.:’Wahai Rasulullah, aku
tidak pernah melihatmu memperbanyak berpuasa (selain Ramadhan) kecuali
pada bulan Sya’ban? Rasulullah s.a.w. menjawab:”Itu bulan dimana manusia
banyak melupakannya antara Rajab dan Ramadhan, di bulan itu perbuatan dan
amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku
diangkat, aku dalam keadaan puasa”. (h.r. Abu Dawud dan Nasa’i).

Dari A’isyah: “Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud
panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena
curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak.
Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak
dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya
berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena
engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam
apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini
adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka
Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang
meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R.
Baihaqi) Menurut perawinya hadis ini mursal (ada rawi yang tidak sambung
ke Sahabat), namun cukup kuat.

Dalam hadis Ali, Rasulullah bersabda: “Malam nisfu Sya’ban, maka
hidupkanlah dengan salat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya
Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda: “Orang
yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rizqi akan Aku
beri dia rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan,
hingga fajar menyingsing.” (H.R. Ibnu Majah dengan sanad lemah).

Ulama berpendapat bahwa hadis lemah dapat digunakan untuk Fadlail A’mal
(keutamaan amal). Walaupun hadis-hadis tersebut tidak sahih, namun melihat
dari hadis-hadis lain yang menunjukkan kautamaan bulan Sya’ban, dapat
diambil kesimpulan bahwa malam Nisfu Sya’ban jelas mempunyai keuatamana
dibandingkan dengan malam-malam lainnya.

Bagaimana merayakan malam Nisfu Sya’ban? Adalah dengan memperbanyak ibadah
dan salat malam dan dengan puasa, namun sebagaimana yang dilakukan
Rasulullah, yaitu dengan secara sendiri-sendiri. Adapun meramaikan malam
Nisfu Sya’ban dengan berlebih-lebihan seperti dengan salat malam
berjamaah, Rasulullah tidak pernah melakukannya. Sebagian umat Islam juga
mengenang malam ini sebagai malam diubahnya kiblat dari masjidil Aqsa ke
arah Ka’bah.
Adapun apa yang sering dilakukan oleh sebagian umat Islam, yaitu Salat
Malam Nisfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat, ini tidak ada landasannya dan
termasuk bid’ah. Syeikh Abdurrahman bin Ismail al-Muqaddisi telah
mentahqiq masalah ini. Demikian juga tidak ada do’a khusus untuk malam
nisfu Sya’ban, namun cukup dengan do’a-do’a umum terutama do’a yang pernah
dilakukan Rasulullah. Jadi sangat dianjurkan untuk meramaikan malam Nisfu
Sya’ban dengan cara memperbanyak ibadah, salat, zikir membaca al-Qur’an,
berdo’a dan amal-amal salih lainnya. Wallahu a’lam bissowab

Muhammad Niam

Incoming search terms:

doa menyambut bulan syaban (29),manfaat bulan syaban (20),manfaat puasa syaban (19),manfaat puasa nisfu syaban (18),Doa bulan syaban (16),doa memasuki bulan syaban (16),manfaat nisfu sakban (3),keitamaan nisfusyaban (2),amalan di bulan sakban (2),puasa d bulan sakban (2),memulai usaha bulan syaban (1),pentingnyabulan syaaban (1),pertengahan sakban puasa (1),manfaat puasa nisfu sakban (1),memulai usaha pada bulan syaban (1),khasiat hadist puasa syaban (1),Keutamaan bulan SAKBAN (1),hadist nisfusaban (1),doa saban (1),doa nisfu sakban (1),doa menyambut nisfu syaban (1),amalan terbaik dibulan sakban (1),amalan puasa sakban (1),sholat nifsyu saban (1)

No related posts.