Menantang Maut Di Atas Tingginya Jembatan Bambu

Diposting pada

Keuntungannya tidak sebesar dengan resiko yang mengintai jiwanya. Namun semua hampir dilakukan selama 40 tahun lantaran tidak ada jalan lain untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Tidak tahu sampai kapan profesi membahayakan itu akan dipertahankannya.

Itulah yang dilakukan Paidi (64) warga Dusun Putu RT 02 Desa Sumbermulyo Kecamatan Bambanglipuro Bantul. Lelaki legam itu bukan penderes kebanyakan. Ia menghubungkan pohon kelapa satu dengan lainnya menggunakan jembatan bambu. Semua dilakukan untuk menghemat waktu. Dengan pemasangan bambu penghubung tersebut penghematan waktu hingga 15 menit.

Dengan berjalan diatas tiga bambu yang terhubung di empat pohon kelapa, keselamatan jiwanya dipertaruhkan. Semua dilakukan dengan tujuan satu, demi sesuap nasi. Paidi kepada wartawan, senin (9/4) mengatakan sebenarnya dirinya berkeinginan punya pekerjaan lain tanpa resiko. Namun lelaki bercucu dua ini sadar akan usianya.

Kini setiap hari, suami juminten ini harus rela dua kali naik turun pohon kelapa untuk mengambil nira. Pekerjaan penuh resiko ini ia tempuh sejak tahun 1972. Ia cukup memanjat sekali dan tinggal berjalan lewat lonjoran bambu ke pohon lainnya. Caranya dengan meniti batangan bambu dengan seutas tampar sebagai pegangan.

Lelaki itu seolah berjalan diatas maut. “Bagaimana lagi, hanya ini yang bisa kami lakukan,” jelasnya. Meski istrinya sempat melarang, namun hal itu tidak mampu meluluhkan semangatnya. Dijelaskan, dalam sehari hanya mampu mendulang untung Rp 20 ribu. “Sehari hanya menghasilkan dua kilogram gula, ketika dijual ke pasar hanya mengantongi uang Rp. 20 ribu”.

Namun itu pun tidak lantas membuat Paidi luluh semangatnya. Dengan segala kekurangannya, lelaki renta itu terus berupaya kerja. Menurutnya, melihat kerjanya itu memang sering menimbulkan kekhawatiran. “Saya harus hati – hati karena ini sumber rezeki saya,” ujarnya.

Kini, lelaki yang sebelumnya bekerja di PG Madukismo tersebut selepas Subuh segera memanjat pohon kelapa di belakang rumahnya. Sedangkan sore hari dilakukan pukul 15.00 WIB. Meskipun sudah renta, namun tidak ada tanda sebagai lelaki lemah. Ia harus melintas di atas bambu setinggi sekitar 25 meter.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *