Belajar Sepakbola Cuma Bayar Rp. 2000

Diposting pada

Sejak setahun terakhir, lapangan sepakbola Desa Tumpangkrasak, yang terletak di seberang Pabrik Gula Randeng Kudus, dipenuhi sekitar 150 anak dan remaja. Mereka belajar sepakbola dengan bimbingan pelatih Sutamto, didampingi asistennya, yakni Muhtarom, Pangestu, Sugiyono (pelatih kiper), dan Saeful Hadi (pelatih fisik).

Ya, itulah SSB atau sekolah sepakbola namun tak seperti lazimnya sekolah sepakbola di tempat lain. Sebab untuk bisa belajar di SSB itu tak perlu membayar mahal. Datang dan ikut latihan saja boleh. Sekedar mengisi kas dan itupun tidak mahal, cukup Rp. 2000.

“Karena SSB belum ada sponsor tetap, maka iuran Rp. 2000 itu sangat berarti, meski sekedar untuk biaya operasional. Sedang untuk keperluan lain seperti pembelian kaos, celana seragam, bola, hingga saat melawat ke tempat lain, itu semua dipikul bersama oleh seluruh pemain,” tutur Sutamto kemarin.

Sutamto bukanlah sosok asing di komunitas bola, khususnya di Kudus. Pasalnya mantan anggota tim PSSI Yunior ini pernah memberi kontribusi merebut piala Coca Cola tingkat Asia di Jakarta. Tak heran jika Sutamto pernah malang melintang di Liga Indonesia I-VIII.

Dengan reputasi yang dimilikinya itu wajar kendati menggunakan tempat ala kadarnya, yakni di lapangan desa, sosok Sutamto mampu menyedot animo peminat yang besar. Saat ini tidak kurang dari 150 pemain yang digembleng empat kali dalam seminggu. Mereka dibagi menjadi tujuh kelompok umur (KU).

Kelompok – kelompok itu meliputi U-10 tahun dengan kelahiran 2002 sebanyak 15 siswa. U-11 dengan kelahiran 2001 sebanyak 20 siswa, U-12 tahun atau kelahiran 2000 sebanyak 30 siswa. U-13 tahun atau kelahiran 1999 sebanyak 22 siswa, U-14 tahun atau kelahiran 1998 sebanyak 15 siswa, kemudian U-15 tahun atau kelahiran 1997 sebanyak 35 siswa, dan U-16 tahun sampai U-23 tahun sebanyak 25 siswa.

Diantara pemain tersebut, sebagian besar ditetapkan sebagai siswa sekolah sepakbola (SSB) Jayeng Muda, yang diikutsertakan dalam berbagai event antar SSB tingkat kabupaten / kota hingga provinsi. Sedang yang berusia remaja hingga 23 tahun disiapkan untuk mengikuti berbagai kegiatan di tingkat sekolah masing – masing.

Menurut Sutamto, langkah yang ditempuh tim pelatih lebih dititikberatkan pada pembinaan sepakbola usia dini yang banyak sekali bermunculan di Kabupaten Kudus. “Mereka harus diberikan metode bermain sepakbola secara benar dan berkualitas. Materi itulah yang kami berikan disini (SSB),” tegasnya.

Meski SSB Jayeng Muda beserta pemain usia 16 tahun hingga 23 tahun berada dibawah tanggung jawab Kepala Desa Tumpangkrasak, namun para pemain tidak hanya berasal dari desa setempat. Sebaliknya, siswa dari SSB itu banyak yang berasal dari luar Tumpangkrasak.

Mengingat lapangan sepakbola Tumpangkrasak belum memenuhi persyaratan, tim pelatih memohon kepada pemerintahan desa setempat untuk membenahinya. Usulan pembenahan sudah disampaikan, seperti menambah panjang dan lebar lapangan, serta pembenahan gawang dan rumput.

“Pihak pemerintah desa nampaknya tidak keberatan, karena perluasan lapangan hanya akan melenyapkan beberapa ratus meter lahan yang berstatus tanah bondo desa,” tambah asisten pelatih Muhtarom.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *