Belajar Dari Sungai Merdeka
Aku dan Otak Kanan | Heri Noto | Desember 21, 2011 at 14:56Pagi itu sudah jam 08 lebih, tapi belum ada kepastian apakah jadi berangkat ke PDAM Cabang Samboja. “Ah nyalakan laptop dulu ah”, guman saya. Baru saja konek ke internet dan mau buka email, HP berbunyi dan langsung saya angkat, “Pagi mas, ayok kita ditunggu Dirum di atas” suara teman saya. “Ok bos” sahut saya.
Singkat cerita kami ber-4 langsung meluncur ke PDAM Cabang Samboja. Perjalanan lumayan lah, 2 jam-an lah. Nyampai di lokasi langsung ukur sana ukur sini. Data lokasi dan lay out selesai di sket. Abis itu langsung duduk berkumpul di bawah pohon sambil diskusi masalah air baku yang ada di Sungai Merdeka-Samboja. Berdasarkan hasil lab, Sungai Merdeka masuk kelas 4, ini adalah kelas yang sangat jelek. Sebagai perbandingan saja, Sungai Mahakam yang aja masuk kelas 2.
Lah terus apa hubungannya Sungai Merdeka dengan judul diatas Mas Bro? hehehe…
Usut punya usut ternyata Sungai Merdeka saat ini sudah tidak pantas disebut sungai, karena tidak ada pangkal ujungnya. Kalau saya lihat itu lebih cocok disebut danau, karena air disitu tidak mengalir alias diam. Kata tidak mengalir disitu sengaja saya tebalkan, karena ini adalah titik permasalahan air baku yang susah diolah untuk dijadikan air yang didistribukan ke pelanggan PDAM kami.
Disekitar danau Sungai Merdeka ditumbuhi reremputan yang sebagian sudah membusuk dan bergetah. Ini yang menjadi penyebab sulitnya untuk diolah sebagai air bersih.
Dari situ saya berpikiran, oh ternyata air yang tidak mengalir itu akan menyebabkan masalah yang sangat rumit dan sangat serius. Dan dari situ saya bisa mengambil pelajaran bahwa kalau kita punya sesuatu seharusnya dialirkan dan jangan coba-coba di tumpuk dan diendapkan.
Harta, baik itu uang barang atau apalah namanya. Kita harus segera mengalirkan uang (rejeki) yang kita dapatkan. Bukan malah menumpuk-numpuk dan takut uang kita akan abis kalau kita sedekahkan. Justru kalau kita sedekahkan maka uang kita akan menjadi berkah. Jadi kalau punya rejeki, mari kita sisihkan untuk sedekah. Kalau gak, tunggu aja nasib kita akan seperti Sungai Merdeka.
Ilmu. Sudahlah, semua juga ngerti kalau kita punya ilmu terus kita ajarkan maka ilmu kita akan bertambah. Bahkan ada dua manfaat, pertama kita tambah hafal dan terpatri di otak kita. Dan yang kedua, kita akan mendapat pahala jariyah selama ilmu itu dimanfaatkan oleh yang kita ajari. Jadi, kalau punya ilmu jangan Sekek (pelit). Kalau pelit sama ilmu maka tunggu aja, pasti nasibnya akan seperti Sungai Merdeka.
Oh iya, waktu ke lokasi saya lupa ngambil fotonya, iseng browsing dapat di kaskus.us dan gambarnya kok ya pas di intake PDAM kami, hehehe… ini namanya pucuk dicinta foto tiba. Saya udah minta izin sama yang posting di kaskus, tapi belum dapat balasan. hehehe… Maaf ya masbro fotonya saya pasang.
Incoming search terms:
inurl:/guest htm alluvions (9),request inurl:/guest cgi?site= (7),inurl:/post htm ambreic (6),inurl:/schedule cgi?form= alismataceae (5),inurl:/guest htm anacampsis (5),form inurl:/read cgi?board= (4),surfing inurl:/comment htm (3),inurl:/comments htm alerted (3),form inurl:/post htm (3),inurl:/comments htm alumroots (2),inurl:/guest htm amlong (1),inurl:/content/view/ form (1),crutch inurl:/guest htm (1)No related posts.
Tags: otak kanan, sedekah, sungai merdeka



Tweet This
Digg This
Save to delicious
Stumble it



Jadi intinya harus mengalir ya mas?
Padahal pemandangannya indah ya.
gitu bos ya. gimana kabarnya bos?